literaryspring.com – Diplomasi dianggap sebagai alat kekuatan lembut dalam pemerintahan Presiden Donald Trump, namun belakangan ini menunjukan adanya perubahan arah. Penasehat Keamanan Nasional Mike Waltz baru saja ditunjuk sebagai duta besar PBB, meskipun sebelumnya terlibat dalam insiden penyebaran informasi sensitif melalui aplikasi pesan yang salah, yang membahas rencana militer. Selain itu, Trump juga mengangkat Komisaris IRS, Billy Long, menjadi duta besar untuk Islandia, meskipun pernyataan Long sebelumnya bertentangan dengan kebijakan pemerintah.
Pengangkatan ini dinilai sebagai bentuk konsolidasi loyalitas, meskipun para pengangkatannya mengalami masa sulit di posisi sebelumnya. Dalam masa jabatan pertama, Trump lebih banyak melakukan pemecatan, namun kini ia berusaha menjaga dekat loyalisnya dengan memberikan kesempatan baru dalam pemerintahan.
Meskipun beberapa pengamat skeptis bahwa posisi baru ini merupakan kemajuan karir, Trump tetap memuji ketiga individu tersebut sebagai patriot yang sepenuhnya mendukung agenda Amerika Pertama. Nominasinya memberikan mereka kesempatan baru, sambil menjaga mereka tetap dalam lingkup politiknya untuk mencegah kritik yang mungkin muncul.
Waltz sebelumnya dikabarkan terancam posisinya setelah insiden tersebut, tetapi Trump menegaskan bahwa perubahan jabatan ini merupakan langkah positif. Di sisi lain, Tammy Bruce, mantan juru bicara Departemen Luar Negeri, telah ditunjuk sebagai wakil duta besar PBB, meskipun ada pertanyaan mengenai efektifitas dalam rol baru tersebut.
Dari pihak Long, yang dikenal sebagai komisaris IRS dengan masa jabatan singkat, menyatakan antusiasmenya terhadap posisi barunya di Islandia. Namun, juru bicara Gedung Putih memilih untuk tidak menjelaskan alasan di balik perubahannya dari pimpinan IRS ke posisi diplomatik tersebut.
Seiring dengan dinamika ini, banyak yang melihat politik diplomatik Trump seperti tawaran perpanjangan karir bagi para menteri yang sebelumnya kurang berhasil.