literaryspring.com – Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menyampaikan peringatan serius mengenai runtuhnya tatanan dunia berbasis aturan dalam pembukaan Konferensi Keamanan Muenchen yang dihadiri oleh sekitar 50 pemimpin global. Dalam pidatonya, Merz menekankan bahwa kebebasan Eropa kini terancam dan menyerukan masyarakat Eropa untuk bersiap menghadapi pengorbanan demi kedaulatan mereka.
Merz mengungkapkan kekhawatirannya bahwa tatanan yang ada, meskipun tidak sempurna, sudah tidak lagi berlaku. Pernyataan ini muncul di tengah peningkatan ketegangan antara Eropa dan Amerika Serikat, terutama terkait dengan upaya Presiden AS, Donald Trump, untuk menguasai Greenland serta kebijakan tarif yang berdampak pada negara-negara Eropa.
Menyadari adanya perbedaan pandangan dengan sekutu tradisional, Merz merujuk pada kritik yang dilontarkan Wakil Presiden AS JD Vance terhadap kebijakan Eropa mengenai kebebasan berpidato dan imigrasi. Merz tegas menyampaikan bahwa mereka menganut prinsip perdagangan bebas, bukan tarif dan proteksionisme.
Jika ketidakpastian sikap AS di NATO terus berlanjut, Merz mengungkapkan telah melakukan pembicaraan rahasia dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron mengenai pembentukan kekuatan nuklir gabungan Eropa. Macron, juga hadir dalam konferensi, mendesak Eropa untuk menjadi kekuatan geopolitik mandiri, terutama setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Dalam konteks isu Greenland, Trump masih merencanakan langkah-langkah untuk menguasai wilayah tersebut, yang ia klaim penting untuk keamanan nasional. Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, dijadwalkan bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS untuk membahas aksi tersebut. Konferensi ini turut membahas berbagai isu mendesak lainnya, termasuk konflik Rusia-Ukraina dan ketegangan dengan China.