literaryspring.com – Tindakan agresif yang dilakukan oleh tentara Israel terhadap markas besar Pasukan Sementara PBB di Naqoura, Lebanon selatan, menjadi sorotan. Pada Sabtu (4/4), juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, menginformasikan bahwa semua kamera pengawas di markas tersebut telah dihancurkan oleh tentara Israel. Tindakan ini dianggap mengancam keselamatan personel militer dan sipil yang berada di markas PBB.
Sejak Jumat, penghancuran kamera ini telah dilakukan tanpa pemberitahuan, sehingga UNIFIL merasa perlu mengajukan protes resmi atas tindakan tersebut. Ardiel menekankan pentingnya keamanan bagi personel PBB dan peraturan yang harus dihormati oleh pihak Israel dalam menjalankan operasi mereka.
Dalam konteks yang lebih luas, situasi di Lebanon selatan tidaklah stabil. Tiga penjaga perdamaian PBB asal Indonesia dilaporkan terluka akibat ledakan yang terjadi di dekat El Adeisse pada hari yang sama, dengan dua di antaranya mengalami luka serius. Selama operasi UNIFIL yang dimulai sejak 1978 dan diperluas setelah Resolusi Dewan Keamanan 1701 pada 2006, keamanan di wilayah ini tetap menjadi tantangan.
Ketegangan antara Israel dan Hizbullah terus berlanjut, meskipun gencatan senjata telah berlangsung sejak November 2024. Otoritas Lebanon mencatat, serangan Israel telah mengakibatkan lebih dari 1.400 kematian dan ribuan luka di kalangan penduduk sipil. Dalam situasi yang berisiko tinggi ini, protes dan respons internasional diharapkan dapat meningkatkan tekanan agar semua pihak menghormati perdamaian dan keselamatan di wilayah tersebut.