literaryspring.com – Kisah pebulutangkis Lin Dan, legenda asal China, mencuri perhatian dalam sejarah olahraga bulu tangkis. Dikenal sebagai “Super Dan”, Lin Dan merupakan salah satu atlet paling dominan, namun menyimpan fakta menarik: ia tidak pernah meraih gelar juara di Indonesia Open meskipun telah berpartisipasi sepuluh kali di turnamen bergengsi ini.
Prestasi Lin Dan di kancah internasional terbilang mengesankan, termasuk meraih dua medali emas Olimpiade secara berturut-turut pada tahun 2008 dan 2012. Dengan tambahan lima gelar juara dunia yang diraihnya dari tahun 2006 hingga 2013, perjalanan karirnya membuatnya betah berada di posisi peringkat satu dunia selama 211 minggu, sebuah pencapaian yang sangat langka.
Namun, perjalanan Lin Dan di Indonesia seolah menjadi misteri. Dalam sepuluh percobaan di Indonesia Open, prestasi terbaiknya hanya mencapai semifinal pada tahun 2004, di mana ia terhenti oleh rivalnya, Taufik Hidayat, dalam pertandingan ketat yang berlangsung tiga gim. Hal ini menimbulkan rasa penasaran di kalangan fans bulu tangkis, mengingat ketangguhan dan kemampuan luar biasa yang ditunjukkan Lin Dan di turnamen lainnya di seluruh dunia.
Keberhasilan Lin Dan di arena global sejatinya kontras dengan kegagalannya di Indonesia. Para penggemar dan analis olahraga bertanya-tanya, mengapa seorang juara sekelas Lin Dan tidak dapat meraih kemenangan di tanah angker ini. Sejumlah spekulasi muncul, mulai dari tekanan mental hingga kekuatan dukungan publik yang sangat mendukung atlet lokal.
Dengan demikian, Lin Dan tetap menjadi salah satu tokoh paling fascinatif dalam sejarah bulu tangkis, termasuk dalam perjalanan uniknya di Indonesia.