literaryspring.com – Ketidakstabilan di Timur Tengah telah mendorong Amerika Serikat untuk mempercepat pengiriman infrastruktur data ke luar angkasa. Hal ini dilakukan sebagai respons terhadap serangan drone Iran yang baru-baru ini menargetkan beberapa pusat data Amazon Web Services (AWS) di Uni Emirat Arab, sehingga menyebabkan gangguan signifikan terhadap layanan cloud dan berdampak pada sekitar 300.000 pedagang yang tidak dapat memproses pesanan.
Serangan ini merupakan yang pertama dalam sejarah yang menargetkan penyedia layanan komputasi awan berskala besar, menunjukkan semakin meningkatnya risiko bagi infrastruktur teknologi di kawasan tersebut. Dampak serangan ini juga menyentuh sektor layanan perbankan, transportasi daring, dan perdagangan elektronik lintas batas, menandakan betapa kerentanannya terhadap serangan militer.
Dalam upaya merespons tantangan ini, beberapa perusahaan teknologi besar, termasuk Google dan Amazon, sedang mencari solusi dengan membangun infrastruktur di luar jangkauan serangan berbasis darat. Pada November 2025, Google meluncurkan proyek ambisius, SolarCatch, yang bertujuan untuk menciptakan jaringan satelit dengan chip TPU khusus. Proyek ini diharapkan dapat mengatasi keterbatasan daya dan pendinginan yang biasanya dihadapi oleh pusat data di bumi.
Menariknya, dalam perkembangan terpisah, Blue Origin, perusahaan yang didirikan oleh miliarder Jeff Bezos, dilaporkan telah mengembangkan pusat data di luar angkasa. Bezos memprediksi bahwa dalam satu hingga dua dekade mendatang, akan ada pembangunan pusat data besar-besaran di luar angkasa, menandakan langkah maju yang signifikan dalam evolusi teknologi komputasi global. Inisiatif ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut tidak hanya fokus pada keamanan tetapi juga inovasi dalam menghadapi tantangan geopolitik yang ada.