literaryspring.com – Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, menekankan pentingnya pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang ke-80 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA 80) yang akan membahas “The Next World Order”. Dalam konteks ini, Dino menganggap posisi Indonesia yang berbicara setelah Amerika Serikat dan Brasil merupakan suatu kehormatan diplomatik yang signifikan.
Ia mengungkapkan bahwa saat ini terdapat konsensus global yang menyatakan bahwa tatanan dunia lama telah berakhir. Oleh karena itu, Indonesia diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam merumuskan konsep mengenai tatanan dunia baru ini. Pidato Presiden Prabowo, yang dijadwalkan pada 9-23 September 2025 di New York, diharapkan akan menarik perhatian internasional, mengingat hubungan Indonesia yang baik dengan negara-negara Barat maupun negara-negara di Global South.
Dino juga memaparkan bahwa situasi politik dan ekonomi global saat ini sangat dinamis, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta tantangan terhadap multilateralisme. Ia menilai bahwa dunia memerlukan kerangka konsep yang jelas untuk menentukan arah tatanan dunia yang baru.
Sebagai perbandingan, ia mengaitkan pidato ini dengan pidato Bung Karno pada 1960 yang bertujuan untuk membangun tatanan dunia baru. Dino percaya bahwa saat ini, negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, memiliki kekuatan yang lebih dibanding sebelumnya, sehingga pidato tersebut akan memiliki nilai strategis yang tinggi.
Presiden Prabowo diharapkan dapat memanfaatkan momen ini untuk mengedepankan isu-isu penting, termasuk pengakuan terhadap negara Palestina, di tengah tantangan global yang ada. Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, memastikan bahwa jadwal presiden dalam acara tersebut tetap terencana.